Penerapan ABA dalam Kehidupan Sehari-hari ABK

Udah familier belum sih sama terapi ABA? ABA adalah singkatan dari Applied Behaviour Analysis yaitu salah satu terapi dengan pendekatan yang memfokuskan pada memahami dan mengubah perilaku seseorang. Mungkin yang sering abilities jumpai terapi ABA banyak menggunakan kartu. Tetapi ABA jauh lebih luas dibandingkan sekadar terapi-terapi ABK memakai kartu.

ABA sendiri sebenarnya tidak hanya untuk disabilitas. Memang ABA banyak digunakan untuk terapi individu khususnya autisme. Tetapi bukan hanya itu saja sebetulnya ilmu ABA bisa kita manfaatkan di berbagai hal. Misalnya di sekolah, pekerjaan, di kantor dan sebagainya. Karena cukup banyak penerapan ABA. Jadi kalau disebut ABA hanya terapi ABK khususnya autis itu hanya sebagian kecil dari pelaksanaan ABA.

Tujuan dari ABA sendiri apa? Khususnya untuk ABK. Jadi ABA meningkatkan perilaku yang bermanfaat dan mengajarkan keterampilan baru. Karena diagnosis setiap anak berbeda dan mungkin ada beberapa anak yang memiliki keterbatasan dalam kemampuan yang mereka punyai maka mereka harus diajari satu-satu atau diintervensi dalam konteks terapi.

Nah, disinilah ABA bisa kita gunakan untuk melatih kemampuan individu tersebut. Termasuk juga mengurangi perilaku berbahaya dan menantang yang mengganggu pembelajaran dan keselamatan seperti tantrum, berlebihan, melukai diri sendiri dan sebagainya. Mungkin selama ini orang tua berpikir bahwa ABK itu wajar jika suka tantrum, suka memukul-mukul diri sendiri, melempar barang dan sebagainya. Padahal mungkin ada hal-hal yang membuat mereka frustasi atau itu adalah cara mereka berkomunikasi. Tapi sebetulnya dengan ABA perilaku-perilaku tersebut bisa dicegah.

Penerapan ABA yakni dengan menganalisa atau mengamati perilaku ABK dan mencari tahu kenapa sih dia melakukan itu dan kita mencari penyelesaiannya. Dalam ilmu ABA hal  pertama dan dasar yang perlu abilities ketahui adalah kita ingin menanamkan kepada ABK bahwa belajar itu menyenangkan. Misalnya kita ingin memotivasi anak untuk belajar. Dalam proses belajar mungkin si anak tidak mau melaksanakan instruksi, si anak tidak boleh dihukum, justru kita perlu memberi apa yang mereka sukai. Kita buatk kesepakatan dengan mereka misalnya “Yuk, kerjain ini, yuk, nanti habis belajar kamu boleh nonton TV”. Jadi Bahasa yang kita gunakan bentuknya penguatan atau penghargaan.

Kedua, berkomunikasi dengan perilaku. Berkaitan dengan faktor sensorik ya, Misalnya ABK tidak suka mendengar suara tangisan, suara bersin, suara elektronik dan sebagainya. Ada kemungkinan masalah sensorik atau juga karena anak ingin melarikan diri dari sesuatu  sehingga mencari atensi dari kita agar dimarahi. Bagaimana kalau itu menjadi suatu yang membu. Nah, ini yang harus kita analisa dan kita observasi, mereka senang karena merasa diperhatikan.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Prove your humanity: 0   +   10   =  

Scroll to Top